Feeds:
Posts
Comments

tes

tes

13 Januari tahun kemaren Natha lahir, berarti sekarang dah 1 tahun (ya iya lah, masa’ ya iya dong). Gak terasa, kaya baru kemaren melahirkannya. Sakit melahirkan? Sudah lama perginya. Bahkan sesaat mendengar tangisan pertamanya, sakit itu hilang, capek dan pegal2 sudah tidak terasa lagi. Alhamdulillah ya Allah !!

Aku begitu bangga, pada diriku yang sudah menjadi ibu. Walopun masih sering uring2an n marah2in Natha yang suka mengeluarkan makanannya saat disuapin. Lebih bangga lagi pada Natha, yang begitu pintarnya menirukan ayahnya sholat, memainkan jari telunjuknya saat mendengar lagu “Satu-satu aku sayang Ibu…..”.

Untuk ulang tahunya yang pertama ini, aku belum memberinya hadiah. Apa kira-kira yang dibutuhkan anak (kamu sudah menjadi anak -bukan bayi lagi-, Sayang) seusia dia?
Yang paling dibutuhkan pastinya ya kasih sayang dan perhatian. Pasti akan mama berikan buat Natha-ku tersayang. Kalo nasehat2 sih nanti aja, kalo sudah agak besar. Hehe

Tulisan ini buat Natha, untuk 1 tahun pertamanya.
‘Semoga di kedepannya nanti kamu bisa memaknai setiap ulang tahunmu’.

Tentang Ibu Iswatin

 

Hari Sabtu kemarin (5 Maret 2008) di MetroTV disiarkan sebuah acara yang diberi tajuk OASIS. Untuk episode saat itu mengulas tentang seorang Ibu yang tinggal di sebuah desa, yang walaupun hanya lulusan SD beliau sangat memperhatikan mengenai pendidikan.

 

Rumah Bu Iswatin tidak begitu besar, mungkin sekitar 100 m², dengan halaman yang luas. Rumah itu dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang kiri ditempati oleh Bu Iswatin dengan keluarganya, sedangkan bagian rumah sebelah kanan dipakai sebagai taman bacaan dan TPA (Tempat Pembelajaran Al-Quran, red.).

 

Bu Iswatin memang hanya lulusan SD, namun semangatnya untuk memajukan pendidikan di desanya tidak mengenal pamrih. Di Taman Bacaan miliknya, terdapat berderet-deret rak berisi buku-buku untuk para ibu maupun anak-anak. Untuk meminjam buku di taman bacaan ini, anak-anak atau para orang tua tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun alias gratis.

 

Selain mengelola taman bacaan di desanya, Bu Iswatin setiap harinya juga mengedarkan setumpuk buku ke desa-desa tetangga. Dengan mengendarai sepeda yang dudukan belakangnya dilengkapi keranjang berisi tumpukan buku, Bu Iswatin menuju ke tiap rumah. Namun seringnya, hanya dengan berhenti di sebuah halaman, anak-anak serta para orang tuanya segera mengerumuni Ibu paruh baya itu. Mereka berdesakkan untuk meminjam buku-buku yang telah di bawa Bu Iswatin. Buku-buku itu akan dikembalikan oleh para peminjam saat beliau berkunjung lagi beberapa hari kemudian.

 

Sebuah inspirasi  yang mungkin bisa mendorong kita untuk berbuat lebih lagi.

Info Jalan

Bagi Para Pengguna Mobil Pribadi :
Waspadai Pemberhentian di Traffic Light.

Minggu lalu Bapak mengalami kejadian yang tidak mengenakkan sewaktu berangkat kerja. Kadang saya amati saat berkendara, Bapak sering membiarkan pintu-pintu mobil dalam keadaan tidak terkunci, dengan jendela yang terbuka melebihi separuh bingkai. Ini bisa disebut salah satu kebiasaan buruk-nya Bapak, atau mungkin karena awalnya sering lupa lalu menjadi sebuah kebiasaan. Namun, saat kejadian yang akan saya ceritakan berikutnya, Bapak sudah dalam tahap menertibkan diri tentang kebiasaannya ini.

Saat itu Bapak sedang di perjalanan menuju pabrik tempat Bapak bekerja. Sewaktu berhenti di perempatan Kertajaya-Dharmawangsa, tiba-tiba ada seorang lelaki yang membuka paksa pintu mobil. Karena dia tidak berhasil membuka pintu – saat itu Bapak tidak lupa untuk menguncinya-, dia dengan berani membukanya dengan cara memasukkan tangan melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Benar-benar nekad!. Karena alasan lelaki itu ingin segera menuju rumah sakit Dr. Soetomo, dan ia sedang terburu-buru, maka Bapak terpaksa mengantarnya juga, alih-alih menyuruhnya turun.

Sesampainya di depan apotek Kimia Farma -letaknya di depan rumah sakit Dr. Soetomo-, Bapak menyuruh orang itu turun, mungkin gelagat orang itu sudah mencurigakan dan Bapak tidak bisa merasakan simpati untuk menolongnya lebih lanjut. Apalagi walaupun sudah mendekati lokasi rumah sakit, dia tidak meminta diturunkan oleh Bapak. Padahal, alasannya menerobos masuk mobil tadi kan untuk pergi ke rumah sakit.

Setelah akhirnya orang itu turun, Bapak kembali melajukan mobilnya. Dapat 10 meter berjalan, ketika Bapak memegang pouch HP di ikat pinggangnya, HP Bapak sudah lenyap.

Kejadian ini bisa memberi wacana kepada kita untuk selalu waspada di jalan raya, semakin banyak modus operandi kejahatan yang bisa dilakukan mereka-mereka yang terdesak oleh masalah ekonomi.

  1. Makan telur tanpa kuning telur nya.
  2. Pakailah minyak jagung untuk menggoreng. Kalau sekedar untuk menumis bisa menggunakan minyak kelapa atau minyak kelapa sawit.
  3. Perbanyaklah makan buah tomat, mentimun dan alpukat (didapat dari sebuah artikel juga). Mentimun dan alpukat bagus untuk penderita tekenan darah tinggi.
  4. Kurangi konsumsi teh dan kopi. Teh dan kopi juga mengandung nikotin dalam kadar yang rendah.
  5. Gunakan bahan-bahan makanan yang alami. Kurangi konsumsi makanan-makanan ber-pengawet dan bahan-bahan kimia lainnya.

 

Mungkin ada tambahan lagi ???

SEmuanya SEtimpal

Hampir 2 bulan jadi PRT (pengatur rumah tangga), baru akhir2 ini merasakan bosan. Sumpek di rumah terus dengan kegiatan2 seputar mencuci, masak dan bersih2…
=)
Sudah lama gak ngerasain AC nya Delta Plaza, escalator-nya Royal Plaza, n food court nya TP… hehehe
Tp disini ak bisa merasakan tangannya natha yang disodor2kan pengen digenggam mamah, bisa melihat senyumnya setiap saat bangun tidur (the cure for my eyestrain), bisa menimpali canda2 dan ocehannya….
Semuanya menyembuhakn capekku…mengobati bosanku….
Sangat bersyukur kepada-Nya yang telah membawa Natha di pangkuanku, yang semoga selalu dijaga-Nya dalam lindungan dan hidayah-Nya.

“masalah yang didiamkan saja mungkin akan terlupakan, tapi bukan terselesaikan…

karena masalah itu sebenarnya mengendap, yang suatu saat akan penuh dan meluber”

Antara BUKU dan BAJU

Sebentar lagi akan jadi ibu, mungkin tidak banyak yang berubah, tapi buaanyaaakkkk….. !!!

Yang bakal paling terasa adalah dari BEKERJA menjadi TIDAK BEKERJA. Berat memang, tapi mo gimana lagi, loby ke suami gak berhasil juga…. Dan ini sebenarnya komitmen pernikahan juga. So, emang gak salah sih suami mengembalikan rel ke jalur yang ’sesuai’.

Satu hal yang akhir2 ini jadi pikiran (imbas dari perubahan diatas), bisakah aku membeli hal-hal yang bisa aku beli sendiri saat bekerja dulu ???? That’s become a BIG problem in a such reason.

Sebelumnya, dari pemasukan berdua tiap bulannya bisa buat (rutin) beli baju and buku. Dua barang yang aku kategorikan kebutuhan PRIMER tambahan. Tapi nanti, gak akan bisa berjalan seperti itu terus. Setiap perubahan membutuhkan penyesuaian. Kebutuhan anakku nanti kan juga harus aku perhatikan. Apalagi dengan kondisi ‘income’ yang hanya dari satu orang.

Solusi nantinya bukan aku tidak akan membeli apapun, tapi membuat prioritas. Dan untuk masalah BUKU dan BAJU ini, yang menjadi prioritas adalah…………..

Sebuah pernyataan retoris-kah ????